Aku berhak mendapatkannya. Itu jelas karena penderitaanku lebih dari mereka yang lain. Ya, aku berhak mendapatkannya. Mendadak aku menjadi wajib untuk menuntut. Dan hak itu tiba-tiba menjadi sebuah keharusan yang pantang untuk ditolak. Jangan pernah mencobanya. Karena tak segan-segan akan kumusnahkan semua yang menghalangiku. Ini adalah masalah hidup dan mati. Ya, bencana adalah alasan yang muktahir untuk memenangkan ego “hidup dan matiku”. Dan untuk sejenak, tampaknya, bisa kutanggalkan kewajiban-kewajibanku yang lain. Ini adalah masalah hak dan untuk itu tak ada lagi yang perlu dibahas, selain berikan segera apa yang menjadi hakku. Sah buatku untuk menunda semua yang berhubungan dengan keringat dan usaha. Semua itu masalah nanti, kalau memang terpaksa dibutuhkan. Selagi masih ada “jatah”. Ini berarti hakku jelas ada di dalamnya, dan aku harus mendapatkannya. Hingga akhirnya aku lupa, bahwa ini adalah bencana. Bahwa aku telah menggadaikan hidupku sendiri. Hidup yang jelas menjadi tanggung jawabku, dan aku lupa bahwa hidupku sendiri nyaris sirna akibat bencana ini. Dan “jatah” yang terdengar begitu menggiurkan itu hanyalah bagian dari belas kasihan orang yang belum tentu kenal padaku, atau bahkan menaruh simpati kepadaku. Mungkin mereka ada karena panggilan jiwa, mereka datang kerena panggilan hati. Atau mungkin hanya mencari sensasi. Mereka yang tulus berusaha menggapai lembut tangan kita, berusaha menarik kita dari kubangan lumpur dan air berbau comberan. Namun apa perlakuan kita pada mereka. Tangan yang terulur tulus itu kita tarik sekeras mungkin, dan memaksa mereka untuk ikut jatuh masuk dalam kubangan milik kita. Kita paksa mereka untuk merasakan hal yang sama. Merasakan penderitaan yang persis kita rasakan. Dan menjadikan hal ini sebagai keharusan. Dan ini yang kusebut sebagai bentuk solidaritas yang ideal. Benarkah? Bukankah ini justru wajah yang nyata sebuah pemaksaan. Kekerdilan hati yang takut menghadapi pahitnya hidup. Keserakahan dan kemunafikan. Tahukah kau bahwa pada saat yang sama kau pun akan mengalami posisi yang sama? Belajarlah malu, meski sedikit.
(sisi lain sebuah bencana)
( 6th February 2007)
No comments:
Post a Comment