Tuesday, June 3, 2008

Duit lagi ... Duit lagi

Anjrit, uang selalu saja jadi masalah. Padahal aku yakin benar, uang itu ada karena akibat, bukan sebab. Tapi apa mau dikata, kalau yang nampak di depan mata demikian besar dan menyedot banyak energi. Tarikan untuk menjadi realistis ternyata harus nyata-nyata dibenturkan pada hal-hal yang berbau spiritualis. Jika sudah begini, diujungnya berakhir dengan fatalis. Pasrah, Nrimo, ... dan seluruh kata berkonotasi sejenis menjadi salah satu referensi terdekat, sahabat akrab? Inikah wajah lain sebuah pelarian, atau tingkatan lanjut langit pemahaman? Cuma, yang sekarang aku tahu, bahwa aku gak boleh tunduk oleh berhala utama ini. Aku gak mau gelap mata. Dan sampai detik ini aku masih percaya mujizat, meski baru dikulitnya. Dan apalah artinya aku, berani bermimpi dan memetakan solusi? Cuma sekarang pertanyaannya, apa tubuhmu sudah cukup berpeluh, kakimu sudah cukup luka, kepalamu sudah terasa berdenyut? Sudah koyakkah kulit-kulit arimu, atau sudahkah mulutmu berbusa, untuk sekedar meminta, dengan tangan takzim menghatur mengharap berkah dan karunia? Kalau belum, apa pantas terus meminta? Apa ada pinta tanpa peluh, airmata, dan doa. Jangan salahkan uang, ia ada karena akibat, bukan karena sebab. Dan Dia selalu ada untuk membasuh peluh-peluh pinta dan harap yang terhatur lurus keharibaanNya. Ampun Gusti, nyuwun kekiyatan.

( 22nd January 2007)

No comments: